Sabtu, 12 Desember 2009

Dari Green Festival Sampai ke Konferensi Perubahan Iklim PBB 2009

Bulan Desember ini, bisa dibilang sebagai bulan Peduli Lingkungan. Di Indonesia, tepatnya di Parkir Timur Senayan, Jakarta, baru saja digelar perhelatan yang disebut Green Festival, tanggal 5 – 6 Desember 2009, sedangkan pada tingkat dunia, PBB menggelar pertemuan akbar yang disebut Konferensi Perubahan Iklim 2009 di Kopenhagen, Denmark tanggal 7 – 18 Desember 2009.



Pada pembukaan Green Festival, ketua panitia penyelenggara Nugroho F. Yudho menjelaskan, Pemerintah Indonesia belum berperan secara optimal memanfaatkan potensi alam dalam rangka mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi sekarang ini. Indonesia mempunyai matahari yang bersinar 12 jam sehari, ribuan sungai, angin, dan gelombang air laut untuk pembangkit listrik. Indonesia memiliki iklim tropis untuk pengembangan energi alami biodiesel atau etanol, serta kelebihan lain yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih optimal.

Di tingkat dunia, pembangkit listrik tenaga angin telah mengaliri 31 juta rumah di Jerman dan 18 juta rumah di Amerika Serikat. Spanyol, India, Denmark, Italia, dan China juga memenuhi sebagian listrik dengan memanfaatkan angin. Jepang dan negara-negara Eropa memanfaatkan tenaga surya. Brasil telah 30 tahun mengembangkan bahan bakar etanol sehingga 40 persen dari total kendaraan memakai etanol. Australia sudah 18 tahun mengembangkan biodisel untuk industri. Itu semua bisa terlaksana karena peran langsung dari pemerintahnya.

Pembangkit listrik merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, baik untuk keperluan rumah tangga, perkantoran, penerangan kota, maupun untuk industri. Hal itu karena 88 persen pembangkit listrik di dunia masih menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. “Kalau sektor transportasi menyumbang 24 persen emisi gas rumah kaca, maka sektor listrik menyumbang 66 persen dari total emisi di dunia,” demikian ucap Nugroho.

Pemanasan Global yang terjadi saat ini, sungguh sudah mencapai taraf yang sangat mengkhawatirkan. Pencairan es baik di Kutub Utara mau pun di Kutub Selatan sudah berlangsung sejak tahun 1996 dan masih terus terjadi sampai saat ini. Indonesia Di Ambang Bencana Akibat Pemanasan Global, karena pencairan es di Kutub Bumi ini, jika tidak dapat dicegah akan terjadi bencana tenggelamnya sekitar 2000 pulau kecil di Indonesia dan sedikitnya 14 Negara pulau kecil di dunia pada sekitar tahun 2030.



Gunung Everest sebagai gunung tertinggi di dunia tidak luput terkena dampak langsung dari peristiwa pemanasan global. Gletser yang terdiri dari salju dan es sudah banyak yang mencair sehingga membentuk sebuah danau glacial yang besar, dengan kondisi dinding yang rawan jebol. Jika jebol, banjir bandang tidak hanya mengancam jutaan jiwa warga di lereng dan kaki gunung, tapi juga bisa meluluh lantakkan jutaan areal pertanian, sumber ekonomi dan permukiman warga. Sekarang salju hanya bisa dilihat dan tersisa di sekitar puncak tertinggi Everest.

Hal inilah yang menyebabkan digelarnya Sidang Kabinet Nepal di Kalapathar yang biasanya dijadikan base camp pendakian, pada ketinggian 5.240 meter di atas permukaan laut (mdpl. Sidang ini juga digelar PM Nepal Madhav Kumar dan 22 menterinya, sebagai persiapan menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB, yang akan dihadiri sekitar 110 negara.



KTT ke-15 Perubahan Iklim (Conference of Parties/COP) dari Konvensi Kerangka Kerja dari Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework for Climate Change Convention/UNFCCC) telah resmi dibuka oleh Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen, Senin lalu (7/12).

KTT ini diharapkan akan menghasilkan kesepakatan yang akan menggantikan Protocol Kyoto yang melahirkan skema carbon trade yang diratifikasi Indonesia pada 2004 dan akan berakhir pada 2012. Skema ini mewajibkan konpensasi atas setiap hektar hutan yang disebut sebagai Reducing Emission from Deforestation dan Degradation (REDD) in Developing Countries, yang masih ditentang Amerika Serikat saat itu. Pada Bali Road Map 2007, dihasilkan kesepakatan aksi adaptasi, jalan pengurangan emisi gas rumah kaca, transfer teknologi dan keuangan yang meliputi adaptasi dan mitigasi.

Indonesia berjanji akan berperan aktif setelah Presiden Susilo Bambang Yodhoyono pada Pertemuan G20 di Pitsburg, USA mengusulkan agar negara maju wajib menurunkan tingkat emisi yang dikeluarkan dari kawasan industri mereka. Delegasi Indonesia yang dipimpin Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Rachmat Witoelar, berjanji akan menjembatani semua kepentingan negara industri dan negara berkembang pada KTT ke-15 Perubahan Iklim, agar tercapai kesepakatan yang mengikat. Indonesia sendiri mentargetkan penurunan emisi 26 % atau 41 % dari trayektori tahun 2020 jika ada bantuan internasional. Sebenarnya Indonesia tidak diwajibkan menentukan target, yang dituntut harus adalah negara industri maju yang kalau bisa mau menurunkan emisinya sebesar 50 % pada tahun 2050 dari level 1990.

Pada awalnya, banyak yang meragukan KTT ini akan berhasil. Bagi beberapa negara, kesepakatan di Kopenhagen adalah persoalan kelangsungan hidup generasi mendatang. Perwakilan Negara Kepulauan Solomon dengan terbata menahan tangis, menyampaikan harapan agar dunia melihat anak-anak di pulau kecil dan Negara dunia ketiga yang masa depannya suram akibat perubahan iklim.

“Mampukah kita menjaga kelangsungan hidup? Jika kita gagal, siapa yang akan disalahkan? Anda semua dan saya yang akan disalahkan !”

Aliansi Negara-negara Pulau Kecil (AOSIS) yang terdiri dari 43 negara, merupakan kelompok paling rentan akibat kenaikan muka air laut, juga dampak badai tropis yang terjadi semakin sering dan dahsyat. Komitmen tiga emiter terbesar Gas Rumah Kaca (GRK) dunia yaitu Amerika, Cina dan India, sangat dinantikan. Syukurlah pemerintah Amerika, sejak dipimpin oleh Demokrat banyak berubah kerarah yang positif, dan mentargetkan penurunan emisi sebesar 17 persen dari level tahun 2005 pada tahun 2020. China pun telah mengeluarkan target penurunan emisi 40-45 persen dari level tahun 2005 pada 2020 yang didasarkan pada produk domestik bruto (GDP)-nya.

Sedangkan India, seperti diungkapkan Menteri Lingkungan India Jairam Ramesh Kamis pekan lalu (3/12), menyatakan akan mengurangi 20-25 persen emisi gas rumah kaca pada 2020 dengan acuan tahun 2005, akan tetapi India tidak akan menandatangani kesepakatan apapun yang sifatnya mengikat, dalam KTT Iklim di Kopenhagen.

Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran tentang bahaya perubahan iklim yang akan menuai bencana alam di Bumi. Hentikan Pemanasan Global, mulai dari sekarang. Sebagai warga Bumi, seluruh komponen pemerintah di dunia dan warga dunia harus mempunyai komitmen bersama memerangi Pemanasan Global ini, agar tidak berlanjut menjadi bencana dahsyat yang bisa memusnahkan sebagian besar keanekaragaman hayati di dunia, tidak terkecuali termasuk manusia didalamnya.

Ayo kita berperan untuk turut serta Mengatasi Pemanasan Global Mulai dari Rumah kita masing-masing, agar dampak negatif pemanasan global ini dapat direduksi. Hemat listrik, hemat air dan tanam pohon (Go Green), demi terciptanya bumi yang lebih baik dan tetap dapat dinikmati oleh generasi penerus, yaitu anak cucu kita sendiri. Ayo mulai peduli lingkungan dan Sayangi Bumi, mulai dari sekarang !

Sumber berita: Kompas cetak tanggal 6 s/d 9/12/2009.

Kamis, 26 November 2009

Keseimbangan Ekosistem Bumi Terusik Sudah

Sebenarnya Bumi diciptakan oleh Nya dengan keseimbangan hukum alam yang harmoni
Sebenarnya Bumi berputar, berotasi dan berevolusi secara teratur dalam keseimbangan semesta alam
Sebenarnya yang namanya ekosistem Bumi terus berjalan seimbang dan selaras

Namun keseimbangan ekosistem Bumi terusik sudah…

Atas nama pembangunan, penghijauan berubah jadi hutan beton megah
Atas nama keserakahan, hutan-hutan dibabat seliar-liarnya
Atas nama kesengajaan, dan keapatisan hutan-hutan terbakar

Kini keadaan Bumi semakin meranggas
Penggundulan hutan menjadikan udara gerah semakin panas
Lapisan es di kutub Bumi pun semakin mencair dan semakin banyak

Kini keadaan Bumi semakin merana
Perubahan iklim, pemanasan global berdampak bencana
Gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, banjir, hujan badai dimana-mana

Kini keadaan Bumi pun semakin renta
Masih adakah lingkungan alam yang indah nyaman untuk anak cucu kita tercinta ?
Masih adakah ruang dan waktu tersisa untuk menyayangi Bumi tempat kita berpijak ?

Atas nama kenyamanan berkendara, bahan bakar fosil CO2 diumbar ke udara
Atas nama keangkuhan, industri peternakan dan sampah perkotaan semakin banyak mengumbar gas metana
Atas nama segala kemajuan, energi listrik terkuras agar dunia terang benderang

Sekarang sudah waktunya peduli lingkungan sekitar
Jangan biarkan keadaan Bumi semakin sekarat
Jangan biarkan anak cucu generasi penerus mewarisi keadaan Bumi yang semakin kelam

Sekarang saatnya bertindak membantu Bumi tercinta
Go Green, hijau hijaukan halaman rumah kita, lingkungan dan hutan kita
Hematlah energi, pakai energi dan bahan bakar terbarukan serta barang-barang ramah lingkungan

Sekarang saatnya harus bertindak
Agar Bumi tempat kita berpijak kembali hijau, indah dan nyaman
Agar Bumi tempat kita berpijak kembali tersenyum cerah, menyongsong masa depan anak cucu kita…

Kita sayangi bumi mulai sekarang...
Yaa... kita harus bertindak mulai sekarang !


Tangerang CS231109

Rabu, 07 Oktober 2009

‘Back to Nature’: Ayo Belajar Dengan Suku Baduy !

Istilah ‘back to nature’ (kembali ke alam) sering kita dengar akhir-akhir ini, seiring dengan perkembangan zaman, banyak merubah gaya hidup dan pola pikir yang ketinggalan zaman menjadi serba modern, serba praktis, serba cepat. Namun banyak akibat negative yang ditimbulkan , jika kita tidak dapat ‘menyaring terlebih dulu’ mana yang baik dan tidak untuk perkembangan hidup dan kehidupan yang kita jalani. Misalnya, dari segi kesehatan, sering makan di restoran cepat saji (fast food) terutama makan daging yang banyak mengandung lemak, dapat mengakibatkan resiko terkena penyakit seperti: kegemukan, tinggi kolesterol, stroke dan serangan jantung, diabetes dan sebagainya. Oleh karenanya, pola makan sehat ‘back to nature’ dengan mengurangi makan daging, perbanyak serat dari sayur-sayuran, biji-bijian dan buah-buahan alamiah mulai diterapkan oleh mereka yang perduli akan kesehatannya.

Demikian pula pada arsitektur perumahan, gaya ‘back to nature’ semakin digemari, karena pemakaian bahan bangunan alamiah seperti batu alam pada lantai, dinding, bentuk ‘minimalis’, mengoptimalkan berhembusnya angin dan masuknya cahaya alam dari Matahari pastinya akan membuat penghuni rumah menjadi nyaman dan betah di rumah.

Jika dikaitkan dengan keadaan Bumi kita yang sedang mengalami proses Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, istilah ‘back to nature’ sangat tepat untuk diterapkan sebagai bagian peran kita turut serta menyelamatkan Bumi dari bahaya Pemanasan Global sekarang ini.
Penghijauan lingkungan dan penggunaan bahan serta barang yang ramah lingkungan (eco friendly products), penting diterapkan untuk membantu menyelamatkan lingkungan dan Bumi yang harus selalu kita sayangi. Lihatlah sejak tahun 2004 pencairan es di Kutub Utara dan Selatan terus berlangsung sampai saat ini dengan kecepatan pencairan yang sangat mengkhawatirkan, jika tidak ada tindakan nyata dari seluruh warga bumi untuk mereduksi kecepatan terjadinya Pemanasan Global, maka bencana alam akan semakin sering terjadi di Indonesia dan di seluruh peloksok dunia. Bencana gempa bumi yang terjadi di Tasikmalaya dan Padang pun terjadi tidak lepas dari pengaruh akibat Pemanasan Global !


Kita bisa banyak belajar untuk menghargai alam sekitar dari Suku Baduy di Desa Kanekes, Leuwidamar-Lebak, Banten, yang terletak sekitar 120 kilometer sebelah Barat Daya dari Jakarta. Berikut adalah kegiatan dan kehidupan Suku Baduy sehari-hari yang selaras dengan usaha kita untuk mereduksi mengatasi bahaya Pemanasan Global yang sedang kita alami sekarang ini.


Warga suku Baduy tidak diperbolehkan menebang pohon secara sembarangan, terutama pohon yang berada pada area hutan lindung karena diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan kejernihan sumber air. Pepohonan di areal ini tidak boleh ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk diubah peruntukannya menjadi ladang atau kebon sayur/buah.

Berladang/ bercocok tanam/ bertani merupakan pekerjaan utama suku Baduy. Tidak diperbolehkan penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida terutama bagi orang Baduy Dalam yang hanya mengunakan pola tradisional dengan dibantu doa serta mantra-mantra.


Area pemukiman menggunakan bahan alamiah yang ramah lingkungan dan dibuat sendiri oleh warga Baduy secara bergotong-royong. Lantai panggung dan dinding menggunakan anyaman bambu, sedangkan atap dari bahan rumbia, membuat udara segar dan cahaya matahari dapat dimanfaatkan secara maksimal.


Demikian pula dengan pembuatan fasilitas umum seperti jembatan untuk menyeberangi sungai, dibuat dari bahan-bahan alamiah seperti: jembatan bambu pada kampung Gajeboh, memanfaatkan rangkaian bambu besar dan panjang dan jembatan akar yang panjangnya 25m di atas Sungai Cisemeut, memanfaatkan akar pohon karet yang saling dililit/dipilin membentuk anyaman berbentuk jembatan yang dapat digunakan oleh orang untuk menyeberangi sungai.


Hasil panen ladang di Baduy terutama padi. Padi ini disimpan di
lumbung-lumbung yang juga dibuat dari bahan bangunan alamiah seperti pada rumah dan bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun! Padi dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Baduy. Budaya adat Baduy juga mengatur bahwa padi yang dihasilkan suku Baduy tidak boleh diperjualbelikan, baik di dalam ataupun di luar Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain secara gotong royong membantu mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Sedangkan tanaman sayur dan buah, seperti kacang, durian, atau aren ditanam di antara padi pada lahan yang disebut kebon, dan juga biasa ditanam tumpang sari dengan tanaman padi. Semuanya ditanam secara organik dan alamiah.


Udara di kampung Baduy yang berbukit-bukit (sebagian kontur kemiringan tanah mencapai 45 sampai dengan 60 derajat) tergolong masih bersih dan segar. Salah satunya karena suku Baduy pantang menggunakan alat transportasi, karena itu asap dari knalpot pun tidak dijumpai di kampung ini. Tak jarang, warga Baduy-terutama laki-laki-meninggalkan ladangnya bila pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, kegiatan bepergian ini dilakukan dengan berjalan kaki walau pun harus ke luar kota !


Kain dan baju yang dipakai oleh warga Baduy merupakan hasil tenunan sendiri dengan memanfaatkan bahan dan pewarnaan alamiah dari hutan yang ada. Demikian pula tas dibuat sebagai kerajinan tangan suku Baduy (kain tenun dan tas dapat dibeli sebagai oleh-oleh dari suku Baduy Luar yang tinggal mulai tapak batas sampai dengan jembatan bambu di kampung Gajeboh). Melalui warna baju yang dikenakan kita dapat membedakan suku Baduy Luar umumnya mengenakan warna hitam sedangkan Baduy Dalam warna putih. Untuk kegiatan membersihkan gigi dan badan juga menggunakan bahan alamiah dari tumbuhan disekitar seperti sirih.


Makanan dan minuman warga baduy dibuat sendiri dari kegiatan berladang, dan pasti tidak tercemar bahan kimia pengawet seperti formalin dan borax. Salah satu minuman khas yang dibuat adalah campuran jahe dan gula aren (bisa dibeli sebagai oleh-oleh) yang sungguh sangat menyegarkan badan setelah jalan-jalan diperkampungan Baduy yang berbukit dengan pemandangan alamiah yang masih indah dan berudara segar. Kita harus
berjalan dari terminal Ciboleger sekitar 3 kilometer ke jembatan bambu Baduy Luar di kampung Gajeboh dan sekitar 12 kilometer ke kampung Baduy Dalam di Cibeo. Sungguh kegiatan jalan-jalan di perbukitan (hiking) yang cukup berkeringat tetapi menyehatkan !


Dengan sistem kepercayaan, adat-istiadat, serta niat untuk menjaga keseimbangan alam, suku Baduy terbukti mampu mandiri menghidupi diri mereka sekaligus melestarikan alam sekitarnya. Warga suku Baduy sangat cinta produk lokal buatan mereka sendiri, akibat positifnya mereka tidak ‘kena’ resesi ekonomi global dan yang pasti tidak turut menyumbang gas rumah kaca (CO2, metana, N20) penyebab terjadinya Pemanasan Global di bumi kita. Semoga saja, budaya adat mereka tidak serta-merta berubah akibat pengaruh yang datang dari para tamu serta turis yang silih berganti mengunjungi kampungnya yang memang terlihat masih unik, bersih dan alamiah.

Ayo kita ‘back to nature’, seperti budaya makan suku Baduy, kita terapkan budaya pola makan sehat banyak serat, organik dan segar yang justru banyak terdapat pada makanan vegetarian tradisionil asli Indonesia seperti lalapan, gado-gado, karedok, asinan sayur dan buah, aneka rujak, ketoprak, pecel, sayur asem, lontong sayur, tahu/tempe, pepes jamur, oncom dan masih banyak lagi lainnya. Dengan banyak meng-konsumsi pangan lokal, kita telah bantu Sayangi Bumi, karena telah memutus rantai transportasi yang menjadi penyebab terbesar kedua terjadinya Pemanasan Global saat ini, jika kita bisa mengurangi dan bahkan berhenti makan daging (menjadi vegetarian) maka kita akan memutus rantai pangan daging dari industri peternakan yang menjadi penyebab utama terbesar terjadinya Pemanasan Global !

Ayo kita ‘back to nature’ dan tetap perduli Sayangi Bumi, jaga lingkungan sekitar agar tidak tercemar, jangan menebang pohon namun tambahlah tanam pohon dan hijaukan halaman rumah kita sendiri, walaupun sekecil apapun halamannya tetap berperan membantu Bumi mereduksi gas rumah kaca CO2, salah satu penyebab Pemanasan Global. Ayo kita beritahu bahaya Pemanasan Global kepada keluarga, teman, saudara dan siapa pun, sehingga kita bisa mulai ‘action’ mulai dari langkah kecil seperti memilah sampah terutama sampah plastik yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup di bumi maupun bagi Bumi sendiri (butuh waktu ratusan tahun bagi Bumi untuk mengurainya). Ayo tetap semangat dan tetap selalu ‘Sayangi Bumi’ !