Tampilkan postingan dengan label perduli bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perduli bumi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2009

Sayangi Bumi: Mungkinkah kita bisa pindah hidup di planet lain ?

Bumi yang kita huni, merupakan salah satu planet dalam Sistem Tata Surya, dan selalu berputar mengelilingi sebuah bintang yang disebut Matahari. Bumi terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu dari gas dan debu panas menjadi bola lahar yang kemudian mendingin dengan suhu dipusatnya sekitar 5.500 derajat Celcius. Saat kerak Bumi terbentuk, gas terlepas dari dalam Bumi membentuk gelembung gas membentuk lapisan yang disebut atmosfer, sehingga udara, awan serta air pun terbentuk. Pada akhirnya makhluk hidup muncul, dimulai dari lautan kemudian bergerak ke daratan berupa tumbuhan dan binatang. Melalui proses evolusi yang lama, maka terbentuklah Bumi sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Sistem Tata Surya kita merupakan bagian dari kelompok bintang dan planet yang disebut Bimasakti. Dalam sistem yang lama terdapat sembilan planet yang mengelilingi Matahari yang terdiri dari: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Pada perkembangan terakhir, para astronom sepakat untuk mengelompokkan Pluto sebagai planet kerdil/katay (dwarf planet) bersama dengan: Ceres, Sedna dan 2003 UB313(Eris), sehingga jumlahnya menjadi ‘dua belas planet’ (Sumber: astronomy-pictures.net).



Adakah tanda-tanda kehidupan lain selain di Planet Bumi ?


Matahari merupakan pusat dari sistem Tata Surya kita, berjarak 150 juta km dari Bumi, mempunyai diameter 1,4 juta km dan temperature 6.000 derajat Celcius di permukaan, 15 juta derajat Celcius di intinya. Karena sedemikian bersinar dan panasnya, kita tidak dapat memandang Matahari secara langsung (bisa mengakibatkan mata buta), tetapi Matahari menjadi sumber energi utama terhadap kehidupan di Bumi.


Merkurius adalah planet terdekat ke Matahari, jaraknya 58 juta km mempunyai diameter 4.878 km, tidak punya atmosfer lapisan gas, sehingga cepat menjadi sangat panas hingga 400 derajat Celcius pada bagian yang berhadapan langsung dengan Matahari, serta sangat dingin hingga minus 200 derajat Celcius pada sisi gelapnya. Permukaannya yang sangat gersang tidak mungkin di huni manusia.


Venus adalah planet kedua dari Matahari, jaraknya 108 juta km mempunyai diameter 12.100 km, permukaannya selalu panas mendidih dan atmosfernya tebal dan beracun terdiri dari CO2 dan awan asam sulfur yang menjadi hujan asam. Kondisi ini sangat tidak mungkin dihuni manusia.



Bumi sebagai planet ketiga adalah ‘rumah kita’ , jaraknya ke Matahari 150 juta km, diameternya 12.756 km. Letaknya sangat ideal untuk menerima cahaya Matahari, sehingga terdapat udara untuk bernapas dan banyak air untuk kehidupan tumbuhan, binatang serta manusia.


Bumi mempunyai Bulan yang selalu mengelilinginya, berjarak 364.000 km dari Bumi, diameternya 3.476 km, permukaannya dipenuhi kawah-kawah dan tidak punya udara dan air, jadi kita tidak bisa hidup di Bulan.


Mars adalah planet dingin dan berbatu, berjarak 228 juta km dari Matahari, diameternya 6.786 km, permukaannya terdapat kawah dan gunung seperti di Bumi, tapi selalu ditutupi oleh debu merah yang sering ditiup oleh angin kencang dan terjadi badai besar (Mars sering dijuluki sebagai planet merah). Mars mempunyai dua bulan Phobos dan Deimos yang berukuran kecil 25 km dan 13 km berbentuk lonjong seperti kentang raksasa. Pathfinder pernah mendarat di Mars tahun 1997 dan mengirim foto permukaan Mars, hasilnya tidak menunjukkan bukti kehidupan.


Jupiter merupakan planet terbesar dalam Tata Surya kita, berjarak 778 juta km, berdiameter 142.984 km, permukaannya berupa gas hydrogen dan helium, mempunyai awan berwarna merah, kuning dan putih yang menjadikan badai dipermukaan selama ratusan tahun, bulan yang mengelilinginya ada 16 buah. Empat bulan terbesarnya: Io, Europa, Ganymede dan Callisto (disebut bulan Galilean karena ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1610), Io selalu panas karena punya gunung berapi yang sering meletus, sedangkan Europa sangat dingin karenanya selalu dilapisi es.


Saturnus merupakan planet terbesar kedua di Tata Surya, berjarak 1.427 juta km dari Bumi, berdiameter 120.536 km, sama seperti Yupiter permukaannya berupa gas, ciri khasnya mempunyai cincin datar yang lebar berasal dari jutaan gumpalan batu dan es yang turut berputar mengelilinginya. Saturnus memiliki 18 bulan yang sangat dingin (karena letaknya jauh dari Matahari), yang terbesar Titan, adalah satu-satunya yang memiliki atmosfer.


Uranus berjarak 2.871 juta km dari Matahari, berdiameter 51.118 km,


sedangkan Neptunus berjarak 4.497 km dari Matahari, berdiameter 49.528 km, keduanya mempunyai atmosfer tebal, inti batu yang kecil dan cincin yang samar, permukaannya berupa gas. Jadi baik Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus sangat tidak mungkin dihuni manusia karena permukaannya tidak bisa dipijak.


Pluto berjarak 5.914 km dari Matahari, berdiameter 2.284 km, bersama planet kerdil lainnya Charon dan Eris permukaannya dari batu berlapis es, yang tentunya juga tidak bisa dihuni manusia.
Khusus untuk Ceres, permukaannya terdapat lautan yang mungkin sudah ada kehidupan didalamnya, namun masih misteri yang baru dapat dijawab setelah misi Dawn dari NASA tahun 2015 menjejak Ceres.

Berdasarkan pengamatan astronom sebenarnya, di luar sistem Tata Surya ada planet lain yang mengelilingi bintang yang disebut exoplanet atau planet extrasolar, yang mirip dengan Bumi diduga ada jejak air, yaitu planet Gliese 581c yang terletak pada sistem Bintang Gliese 581 (pada rasi Bintang Libra), namun belum bisa dipastikan ada atau tidaknya kehidupan diluar galaxy Bima Sakti kita.

Jadi kesimpulannya, kita jangan terlalu berharap kepada yang tidak pasti. Ayo kita Sayangi Bumi, kita cegah Pemanasan Global jangan menunggu sampai es di Kutub Utara dan Selatan Bumi mencair, jangan menunggu kondisi Bumi semakin gersang, kering kerontang sehingga kita harus mengungsi keluar dari Planet Bumi, karena belum ada tempat yang pasti dapat dihuni manusia di luar sana, kalau pun ada, teknologi dan biaya untuk pindah kesana bukan hal yang mudah. Ayo kita lebih peduli dengan keadaan di Bumi, perbaiki lingkungan sekitar kita, selamatkan Bumi mulai dari sekarang ! (Save Environment, Save The Earth !) Hijaukan Bumi, dengan menanam pohon mulai hari ini, serta bertindak ramah lingkungan agar Bumi kita tetap nyaman untuk dihuni sampai anak cucu kita nanti.

Senin, 03 Agustus 2009

Es Kutub Utara dan Selatan Mencair. Indonesia Rentan Bencana Alam



Sejak tahun 2004 setidaknya sudah 42 persen es di kutub utara semakin menipis dan mencair di setiap musim panasnya, demikian laporan beberapa ilmuwan di lembaga antariksa AS, NASA seperti tertulis pada KOMPAS.com Selasa 21 Juli 2009.

Melalui laporan yang dikirim pesawat antariksa ICESat yang digunakan NASA, para ilmuwan menggambarkan, secara keseluruhan es Laut Kutub Utara menipis sebanyak 7 inci (17.78 centimeter) per tahun sejak tahun 2004, sebanyak 2,2 kaki (0,67meter) selama empat musim dingin. Temuan dilaporkan pada "Journal of Geophysical Research- Ocean". Tanpa lapisan es, perairan gelap Laut Kutub Utara lebih mudah menyerap panas sinar Matahari dan bukan memantulkannya sebagaimana terjadi pada es yang berwarna cerah, sehingga mempercepat dampak Pemanasan Global.

Es Kutub Utara merupakan salah satu faktor yang menentukan pada pola cuaca dan iklim global, karena perbedaan antara udara dingin di kedua kutub Bumi dan udara hangat di sekitar Khatulistiwa menggerakakan arus udara dan air, termasuk arus yang memancar.

Bagaimana dengan Lapisan Es di Kutub Selatan ? Beberapa ilmuwan Selandia Baru telah memperingatkan bahwa Kutub Selatan mencair lebih cepat dari perkiraan. Profesor Peter Barrett dari Antarctic Research Center, Victoria University mengatakan, jumlah es yang hilang mencapai 75 persen sejak tahun 1996. "Hilangnya es global dari Greenland, Antartika dan gletser lain menunjukkan permukaan air laut akan naik antara80 centimeter dan 2 meter sampai tahun 2100", kata Barrett.

Studi terbaru yang dimuat di Journal of Climate American Meteorogical Society's melaporkan bahwa: "Temperatur rata-rata permukaan naik 9,3 derajat Fahrenheit (5,2 derajat Celcius) sampai 2100", kata beberapa ilmuwan di Massasuchusetts Institute of Technology (MIT), dibandingkan studi tahun 2003 yang memperkirakan suhu permukaan rata-rata 4,3 derajat fahrenheit (2,4 derajat Celcius).

Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia ? Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Tentu mudah ditebak akan banyak pulau-pulau kecil yang akan hilang dan tenggelam serta pulau besarnya akan kehilangan kota pesisir dan secara keseluruhan luas daratan akan mengecil. Akibat selanjutnya adalah penduduk harus pindah/mengungsi, kekeringan akan semakin parah mengakibatkan musibah gagal panen dan kebakaran, curah hujan semakin ekstrim menyebabkan musibah banjir dan longsor, petani/nelayan akan kehilangan mata pencaharian karena perubahan iklim semakin sulit diprediksi, produk makanan semakin langka, kelaparan dimana-mana, wabah penyakit semakin meluas.

Pada skala dunia, selain hal-hal tersebut diatas terjadi, kenaikan suhu rata-rata Bumi 2 derajat celcius saja, sudah akan membuat Perubahan Iklim semakin kacau, hujan badai angin topan, kekeringan akan semakin sering terjadi, sebanyak 20 sampai dengan 30 persen spesies tumbuhan beserta hewan akan musnah, terutama yang gagal beradaptasi terhadap Perubahan Iklim yang terjadi. Contoh nyata yang akan kita lihat adalah keberadaan beruang kutub yang mungkin tinggal menunggu waktu akan semakin langka dan bahkan akan musnah. Apalagi jika benar-benar suhu permukaan rata-rata akan terjadi sekitar 5,2 derajat Celcius, sungguh hal ini akan mengancam 70 persen tumbuhan dan mahluk hidup di bumi, semua hewan termasuk manusia tanpa kecuali.

Akankah kita tetap berpangku tangan, membiarkan bencana akibat Pemanasan Global (Global Warming) terjadi ? Ayo sesama warga Bumi, kita harus lebih dan ekstra lebih perduli dengan keadaan Bumi yang semakin renta, yang harus kita rawat, kita jaga dan kita sayangi. Ayo kita Sayangi Bumi.