Kamis, 11 Februari 2010

Kerusakan Hutan Tropis Indonesia dan Belajar dari Kearifan Budaya Lokal Suku Baduy yang Ramah Lingkungan

Hutan tropis Indonesia merupakan bagian dari 10% hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan di Indonesia memiliki begitu banyak keanekaragaman hayati yang terdiri dari 12% jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau khas hanya dapat ditemui di daerah tersebut. Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya hingga mencapai 72 persen. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun, mengakibatkan terjadinya penyusutan hutan tropis kita secara besar-besaran. Lihatlah, apa yang terjadi:



Atas nama pembangunan, penghijauan berubah jadi hutan beton megah
Atas nama keserakahan, hutan-hutan dibabat seliar-liarnya
Atas nama kesengajaan, dan keapatisan hutan-hutan terbakar

Kini keadaan Bumi semakin meranggas
Penggundulan hutan menjadikan udara gerah semakin panas
Lapisan es di kutub Bumi pun semakin mencair dan semakin banyak

Kini keadaan Bumi semakin merana
Perubahan iklim, pemanasan global berdampak bencana
Gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, kekeringan, banjir, hujan badai dimana-mana
( Selengkapnya silahkan klik pada puisi: Keseimbangan Ekosistem Bumi Terusik Sudah )



Suatu kenyataan pahit, yang bisa kita lihat dari keadaan hutan tropis kita: pembalakan hutan secara liar (illegal logging) dan kebakaran hutan baik disengaja atau pun tidak. Dalam satu minggu terakhir, Kompas cetak masih memberitakan pembalakan liar yang masih terus terjadi di hutan sekitar Riau, Sumatera. Pertambangan batu bara liar atau resmi tapi tak dikontrol di Taman Hutan Rakyat Bukit Suharto Kalimantan Timur yang masih terus berlangsung serta meninggalkan kerusakan lingkungan berupa danau bekas galian disana-sini, demikian pula pertambangan lainnya. Tidak hanya di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan di Papua pun hutan tropis kita sudah mulai banyak yang berubah fungsi menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit.

Entah sampai kapan hal-hal seperti ini terus berlangsung dan merusak tatanan ekosistem hutan serta mengancam keberadaan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya. Tidak hanya para penghuni di hutan, tatanan sosial budaya masyarakat adat di sekitar perkebunan kelapa sawit ini pun menjadi turut terganggu. Dengan hilangnya hutan berarti hilang juga sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia, karena hutan merupakan tempat mencari makanan, obat-obatan serta menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar rakyat khususnya yang bermukim di dekat hutan.

Manusia perusak lingkungan masih saja berkeliaran. Sudah saatnya segenap jajaran kementrian lingkungan hidup, para polisi hutan beserta peran masyarakat di sekitar hutan dioptimalkan jangan sampai peristiwa ini terus terulang lagi dan terulang lagi.

Coba kita tengok dan pelajari banyak suku-suku adat yang tersebar di seluruh peloksok Indonesia, mereka pada umumnya sudah bertindak sangat ramah lingkungan melalui kegiatan hidupnya sehari-hari, dan kita yang katanya orang kota, faktanya justru banyak yang bertindak kurang peduli terhadap lingkungan.

Begitu sangat banyak kearifan budaya lokal dari berbagai suku adat yang banyak tersebar di seluruh peloksok Indonesia. Salah satunya, kita bisa banyak belajar untuk menghargai lingkungan dan alam sekitar dari Suku Baduy di Desa Kanekes, Leuwidamar-Lebak, Banten, yang terletak sekitar 120 kilometer sebelah Barat Daya dari Jakarta. Karena lokasinya yang relatif dekat di satu provinsi, penulis sempat berkunjung kesana beberapa kali, untuk cari informasi sambil berolah raga jalan kaki di lingkungan perbukitan yang berudara bersih dan segar.



Berikut adalah kegiatan dan kehidupan Suku Baduy sehari-hari yang dapat dijadikan pelajaran berharga serta sesuai dengan usaha kita untuk mereduksi mengatasi bahaya Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change) yang sedang kita hadapi sekarang ini.

Warga suku Baduy tidak diperbolehkan menebang pohon secara sembarangan, terutama pohon yang berada pada area hutan lindung karena diperlukan untuk menjaga keseimbangan dan kejernihan sumber air. Pepohonan di areal ini tidak boleh ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk diubah peruntukannya menjadi ladang atau kebon sayur/buah. Pernyataan jangan merusak hutan sudah sangat dipahami oleh segenap warga Baduy seperti pernah diungkapkan kokolot Baduy, Jaro Dainah: “Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak !” Seperti kita ketahui hutan tropis Indonesia banyak yang rusak dan berkurang karena keserakahan kegiatan penjarahan hutan secara liar (illegal logging) dan pembukaan lahan baru misalnya untuk perkebunan sawit dengan cara pintas membakar hutan yang mengakibatkan polusi udara sehingga Indonesia menempati urutan tiga besar penyumbang emisi di dunia dari segi kebakaran dan perusakan habitat hutannya.

Berladang/ bercocok tanam/ bertani merupakan pekerjaan utama suku Baduy. Tidak diperbolehkan penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida terutama bagi orang Baduy Dalam yang hanya mengunakan pola tradisional organik dengan dibantu doa serta mantra-mantra. Dengan demikian pola tanam organik bebas kimia seperti ini, kenyataannya terbukti lebih bermanfaat dan menyehatkan dan malah sekarang mulai banyak ditiru oleh ‘orang kota’ yang peduli untuk menjaga kesehatannya.



Area pemukiman menggunakan bahan alamiah yang ramah lingkungan dan dibuat sendiri oleh warga Baduy secara bergotong-royong. Budaya saling menolong sangat menonjol diterapkan pada Suku Baduy, terutama jika dijumpai warga yang terkena musibah atau kesusahan. Seperti kita ketahui, budaya rasa kebersamaan dan empati tolong-menolong ini semakin tergerus di lingkungan perkotaan. Lantai panggung dan dinding rumah Suku Baduy menggunakan anyaman bambu, sedangkan atap dari bahan rumbia, membuat angina sangat leluasa berhembus menjadikan udara sejuk segar dan cahaya matahari secara alamiah dapat dimanfaatkan secara maksimal. Disini kita belajar untuk memanfaatkan sumber energi dari alam yang memang berlimpah, daripada menggunakan penyejuk udara buatan seperti ac yang boros listrik dan lampu terutama di siang hari.

Demikian pula dengan pembuatan fasilitas umum seperti jembatan untuk menyeberangi sungai, dibuat dari bahan-bahan alamiah seperti: jembatan bambu pada kampung Gajeboh, memanfaatkan rangkaian bambu besar dan panjang merupakan karya besar yang benar-benar indah dipandang mata dengan konstruksi yang ramah lingkungan.
Ada satu lagi jembatan yang sangat unik dan luar biasa indahnya, yaitu jembatan akar yang panjangnya 25m di atas Sungai Cisemeut, memanfaatkan akar dua buah pohon karet besar di kedua sisi sungai yang saling dililit/dipilin membentuk anyaman berbentuk jembatan sehingga dapat digunakan oleh orang untuk menyeberangi sungai. Sungguh suatu karya hebat yang tidak bisa dijumpai di kota-kota besar. Ini adalah karya di dunia nyata, tidak sekedar fiksi seperti jembatan akar yang terlihat pada film ‘Avatar’.



Pohon bambu banyak dijumpai di perkampungan Suku Baduy, hal ini sangat berperan membantu Bumi dalam menghadapi pemanasan global, karena penanaman bambu seluas satu juta are akan mengurangi hingga 4,8 juta ton emisi CO2 per tahun. *)

Hasil panen ladang di Baduy terutama padi. Padi ini disimpan di
lumbung-lumbung yang juga dibuat dari bahan bangunan alamiah seperti pada rumah dan bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun! Pada pondasi kaki lumbung (terutama milik warga Baduy Dalam) terdapat papan berbentuk bidang lingkaran yang berfungsi sebagai penghalang agar hama tikus tidak dapat masuk ke area lumbung penyimpanan beras. Padi dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Baduy. Budaya adat Baduy juga mengatur bahwa padi yang dihasilkan suku Baduy tidak boleh diperjualbelikan, baik di dalam ataupun di luar Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain secara gotong royong membantu mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Sedangkan tanaman sayur dan buah, seperti kacang, durian, atau aren ditanam di antara padi pada lahan yang disebut kebon, dan juga biasa ditanam tumpang sari dengan tanaman padi. Semuanya ditanam secara organik dan alamiah.

Udara di kampung Baduy yang berbukit-bukit (sebagian kontur kemiringan tanah mencapai 45 sampai dengan 60 derajat) tergolong masih bersih dan segar. Salah satunya karena suku Baduy pantang menggunakan alat transportasi, karena itu asap dari knalpot pun tidak dijumpai di kampung ini. Tak jarang, warga Baduy-terutama laki-laki-meninggalkan ladangnya bila pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, kegiatan bepergian ini dilakukan dengan berjalan kaki walau pun harus ke luar kota ! Disini kita bisa belajar menciptakan lingkungan yang bersih dengan tidak selalu tergantung dengan kendaraan bermotor yang asapnya akan menyumbang emisi CO2 penyebab terjadinya pemanasan global. Budaya jalan kaki bisa kita terapkan untuk tujuan dekat di sekitar lingkungan kita atau dijadikan kebiasaan berolah raga jalan setiap pagi atau sore yang bisa menyehatkan dan menyegarkan tubuh pada setiap harinya.

Kain dan baju yang dipakai oleh warga Baduy merupakan hasil tenunan sendiri dengan memanfaatkan bahan dan pewarnaan alamiah yang ramah lingkungan dari hutan yang ada. Demikian pula tas dibuat sebagai kerajinan tangan suku Baduy (kain tenun dan tas dapat dibeli sebagai oleh-oleh dari suku Baduy Luar yang tinggal mulai tapak batas sampai dengan jembatan bambu di kampung Gajeboh). Melalui warna baju yang dikenakan kita dapat membedakan suku Baduy Luar umumnya mengenakan warna hitam sedangkan Baduy Dalam warna putih. Untuk kegiatan membersihkan gigi dan badan juga seperti yang tercantum pada ketentuan peraturan yang ditulis pada prasasti di gerbang masuk pemukiman Suku Baduy, tidak boleh menggunakan odol/pasta gigi dan sabun, karena akan mencemari sungai dan lingkungan. Segala kegiatan ini menunjukkan betapa bersahabatnya warga Baduy dengan alam sekitar tanpa mencemarinya dengan segala sampah kimia, busa odol dan sabun, kemasan plastik dan sebagainya.

Makanan dan minuman warga baduy dibuat sendiri dari kegiatan berladang, dan pasti tidak tercemar bahan kimia pengawet seperti formalin dan borax. Salah satu minuman khas yang dibuat adalah campuran jahe dan gula aren (bisa dibeli sebagai oleh-oleh) yang sungguh sangat menyegarkan badan setelah jalan-jalan diperkampungan Baduy yang berbukit dengan pemandangan alamiah yang masih indah dan berudara segar. Kita harus berjalan dari terminal Ciboleger sekitar 3 kilometer ke jembatan bambu Baduy Luar di kampung Gajeboh dan sekitar 12 kilometer ke kampung Baduy Dalam di Cibeo. Sungguh kegiatan jalan-jalan di perbukitan (hiking) yang cukup menjadikan tubuh berkeringat tetapi pasti sangat menyehatkan !

Kita juga bisa belajar banyak dari budaya makan suku Baduy, kita terapkan budaya pola makan sehat banyak serat, organik dan segar yang justru banyak terdapat pada makanan vegetarian tradisionil asli Indonesia seperti lalapan, gado-gado, lotek, karedok, asinan sayur dan buah, aneka rujak, ketoprak, kupat tahu, toge goreng, pecel, nasi lengko, sayur asem, lontong sayur, tahu/tempe, pepes jamur dan oncom serta masih banyak lagi lainnya. Dengan banyak meng-konsumsi pangan lokal, berarti kita telah turut berperan menyelamatkan lingkungan, karena telah memutus rantai transportasi yang menjadi penyebab terbesar kedua terjadinya Pemanasan Global saat ini, jika kita bisa mengurangi makan daging (flexitarian) dan bahkan bisa berhenti makan daging (menjadi vegetarian) maka kita akan memutus rantai pangan daging dari industri peternakan yang menjadi penyebab utama terbesar terjadinya Pemanasan Global !

Lihatlah, untuk konsumsi sepotong daging (sapi, domba, babi, ayam dsb) pada piring makan kita, konversi energi yang dibutuhkan setara dengan menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2. Jika kita membebaskan piring kita dari konsumsi daging seminggu sekali saja efeknya sangat positif untuk menghambat laju pemanasan global yang terjadi sekarang ini, karena mempunyai efek 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Sebagai gambaran industri peternakan dunia menyumbang 35 sampai dengan 40 persen emisi gas metana (CH4), 9 persen emisi gas CO2, dan menyumbang 65 persen emisi gas nitrous oksida (N2O), Ketiganya adalah gas rumah kaca (GRK) paling utama. GRK bertanggung jawab pada meningkatnya suhu atmosfer Bumi. Peternakan menyumbang sekitar 51 persen emisi GRK total dunia. *) Untuk diketahui efek pemanasan global gas metana adalah 23 kali lebih kuat dari CO2 dan N2O adalah 296 kali dari CO2.

Dengan sistem kepercayaan, adat-istiadat, serta niat untuk menjaga keseimbangan alam, suku Baduy terbukti mampu mandiri menghidupi diri mereka sekaligus melestarikan alam sekitarnya. Warga suku Baduy sangat cinta produk lokal buatan mereka sendiri, akibat positifnya mereka tidak ‘kena’ resesi ekonomi global dan yang pasti tidak turut menyumbang GRK penyebab terjadinya Pemanasan Global di bumi kita. Berdasarkan penelitian dan perhitungan para ahli lingkungan dunia, jika satu juta orang mengubah gaya hidup dengan berbelanja bahan-bahan makanan produk lokal selama setahun, kita dapat mengurangi emisi CO2 hingga 625.000 ton. *)

Begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari Suku Baduy yang kata orang kota masih ‘primitif’ namun sebenarnya telah bertindak sangat peduli ingkungan. Pemukimannya rapih, lingkungannya bersih, udaranya segar, sungainya tak tercemar oleh segala macam sampah seperti di perkotaan dan yang pasti hutannya masih terlihat hijau alamiah. Semoga saja, budaya adat mereka tidak serta-merta berubah akibat pengaruh yang datang dari para tamu serta turis yang silih berganti mengunjungi kampungnya yang memang terlihat masih unik, bersih dan sangat alamiah.

Anda tertarik untuk berkunjung ke Perkampungan Suku Baduy ?

Mau naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum seperti bus antar kota dan kereta api tujuan kota Rangkas Bitung, lanjut ke arah terminal Ciboleger. Jika belum punya teman untuk petunjuk jalan dapat memanfaatkan jasa penduduk lokal untuk menemani agar tidak tersesat. Lakukan pengisian daftar tamu di rumah jaro dekat tugu batas gerbang masuk Perkampungan Baduy, beri sumbangan sukarela untuk keamanan dan perawatan kebersihan lingkungan, lalu tinggal pilih tujuan mau lihat obyek jembatan bambu, jembatan akar atau malah sampai lokasi Baduy Dalam (kecuali pada bulan Kawalu) silahkan saja.

Namun mohon diperhatikan beberapa ketentuan dan larangan seperti: tidak menebang pohon secara sembarangan, mencabut atau merusak tanaman sepanjang jalan yang dilalui, tidak menangkap atau membunuh binatang yang ditemui di perjalanan, tidak membuang sampah sembarangan (terutama yang berbahan kaleng dan plastik) di areal pemukiman termasuk sungai, tidak membuang puntung rokok yang masih menyala dan meninggalkan api bekas masak/unggun dalam keadaan menyala serta ketentuan-ketentuan lainnya yang tertera pada prasasti di dekat gerbang masuk.

Dan hal yang paling penting siapkan stamina anda untuk menghadapi trek jalan setapak mendaki yang ada dan bila belum terbiasa berjalan di tanah yang basah dan licin, hindari berkunjung pada saat musim hujan.

Ayo kita dukung segala program untuk menjadikan Bumi semakin hijau ( Go Green ), karena penghijauan merupakan salah satu cara ampuh untuk mengatasi dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang sedang dialami Bumi kita yang cuma satu ini. Bagi anda yang ingin tahu lebih lanjut, masih ada 1001 cara untuk membantu Bumi dari dampak negatif pemanasan global dimulai dari rumah kita masing-masing, bisa dilihat dan klik disini.


Keterangan:
*) Sumber: The Live Earth-Global Warming Survival Handbook 2007, sebagaimana ditulis pada kolom ‘Kita dan Emisi’ Kompas dalam rangka KTT Kopenhagen.
Foto: koleksi pribadi ditambah ‘browsing’ dari Google.

Jumat, 29 Januari 2010

Waspadai Banjir Besar Jakarta: Antara Prediksi BMKG dan Ramalan Mama Lauren

Sekarang sudah terlihat, betapa Perubahan Iklim (Climate Change) di Bumi sudah banyak membuat manusia susah. Bencana alam datang silih berganti dan terus menerus terjadi di seluruh peloksok Bumi.

Di Amerika, Eropa dan terakhir di Cina, hujan salju datang lebih cepat dan dengan skala intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Bayangkan Kota Xin Jiang di Cina suhu udaranya sudah mencapai minus 43 derajat Celcius.

Dan yang paling nyata terlihat di Indonesia pada akhir-akhir ini adalah semakin sering terjadinya hujan badai disertai angin kencang, bahkan terjadi angin puting beliung yang sangat merusak juga banjir besar di berbagai tempat di Indonesia. Cuaca ekstrim telah menjadikan hujan yang turun pun bisa begitu lebat dan berlangsung lama, mengakibatkan beberapa kota seperti Karawang sudah terendam oleh banjir. Dan para nelayan pun sudah sangat terganggu jadwal melautnya.

Mengapa bisa terjadi banjir ? Sebagian besar jawaban dari pertanyaan sederhana ini, tidak lain dari ulah manusia sendiri.



Coba perhatikan foto-foto berikut ini, lautan sampah ada dimana-mana. Pada mulanya sih sederhana, buang sampah di jalan, terbawa angin masuk selokan sampai di sungai dan pintu air dan sebagian lagi terbawa arus hingga sampailah ke laut. Belum lagi yang buang langsung ke sungai seolah memang tempatnya.



Berbagai jenis sampah bercampur jadi satu. Ada berbagai plastik kresek, ember rusak, styrofoam, kemasan aluminum foil bekas makanan ringan, minuman dan bahkan kursi rusak, kasur dan bantal pun sangat mudah dijumpai. Akibatnya beberapa pintu air dan sungai di Jakarta seolah telah menjadi tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia. Banyak orang yang bersikap masa bodoh dan secara tidak sadar telah melakukan arisan atau menabung sampah, akibatnya kita akan menuai banjir.

Berikut ini adalah prediksi dan peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang berlaku tanggal 22 sampai 25 Januari 2010 (akan di update sesuai kebutuhan):

Adanya badai tropis MAGDA diperairan sebelah Selatan Kupang dan daerah tekanan rendah di sebelah Tenggara Merauke berpengaruh terhadap pembentukan daerah pumpunan/pertemuan angin yang memanjang dari Laut Jawa, Laut Bali hingga NTB serta dari Laut Banda hingga Laut Arafura. Kondisi ini berpengaruh terhadap proses pertumbuhan awan hujan yang semakin meningkat di wilayah Indonesia bagian Selatan. Selain itu, kelembaban udara yang cukup besar dan suhu muka laut yang masih hangat juga memberikan dukungan yang positif terhadap pertumbuhan awan hujan.

Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah :

Sumatera bagian Tengah dan Selatan
Pesisir Barat Sumatera
Kalimantan bagian Selatan
Jabodetabek
Jawa bagian Barat dan Utara
Sulawesi bagian Selatan
Bali
Nusa Tenggara
Maluku Tenggara
Papua bagian Tengah dan Selatan

Update ke-1: Peringatan dini cuaca untuk tanggal 26 sampai dengan 28 Januari 2010:

Adanya massa udara dingin dari daratan Asia dan tekanan rendah diperairan sebelah Selatan Papua Nugini mempengaruhi pembentukan daerah pertemuan angin yang memanjang di Laut Jawa serta dari Laut Banda hingga Laut Arafura. Kondisi ini berpengaruh terhadap proses pertumbuhan awan hujan yang semakin meningkat di wilayah Indonesia bagian Selatan. Selain itu, kelembaban udara yang cukup besar dan suhu muka laut yang masih hangat juga memberikan dukungan yang positif terhadap pertumbuhan awan hujan.

Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah :

- Sumatera bagian Selatan
- Pesisir Barat Sumatera
- Kalimantan bagian Selatan dan Timur
- Jabodetabek- Sebagian besar Jawa
- Sulawesi bagian Utara, Selatan dan Tenggara
- Bali dan NTB
- Maluku Utara dan Tengah
- Papua bagian Barat dan Utara

Update ke-2: Peringatan dini cuaca untuk tanggal 29 Januari sampai dengan 1 Februari 2010:

Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang adalah :

- Sumatera bagian Tengah dan Selatan
- Pesisir Barat Sumatera
- Kalimantan bagian Selatan dan Timur
- Jabodetabek- Jawa bagian Tengah dan Utara
- Sulawesi bagian Utara, Tengah dan Selatan
- Bali, NTB dan NTT
- Maluku Utara dan Tengah
- Papua bagian Barat dan Utara

Update ke-3:

PERINGATAN DINI CUACA TANGGAL 19 - 22 FEBRUARI 2010
NARASI : Terdapat daerah tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah Barat Daya Sumatera. Daerah pumpunan / pertemuan angin memanjang dari Laut Banda, Laut Arafuru hingga Papua bagian Selatan. Kondisi suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia masih hangat sehingga mendukung suplai uap air bagi proses pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia. Selain itu, faktor pemanasan berskala lokal yang ditandai dengan suhu udara yang tinggi pada siang hari di beberapa wilayah mendukung bagi pertumbuhan awan hujan seperti awan Cumulonimbus. Awan - awan tersebut berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang - lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi singkat. Wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang adalah : - Pesisir Barat Sumatera - Sumatera bagian Selatan - Kalimantan bagian Timur dan Selatan - Jawa - Jabodetabek - Sulawesi bagian Tengah, Selatan dan Tenggara - Maluku Tengah - Nusatenggara bagian Utara - Papua bagian Barat dan Selatan Jakarta, 18 Februari 2010 Bidang Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

Sesuai dengan perkiraan, sekarang ini kita sudah mulai memasuki puncak musim hujan. Oleh karena itu, di beberapa wilayah hilir daerah aliran sungai dan cekungan perlu mewaspadai ancaman hujan lebat yang terjadi dalam waktu relatif lama yang akan menyebabkan terjadi banjir. Puncak musim hujan ini ditandai dengan terjadinya hujan pada sore sampai dengan dini hari. Hal ini terjadi akibat persinggungan angin darat yang menuju ke laut dan angin dari kawasan utara.

Dalam beberapa hari terakhir, hujan sudah mengakibatkan banjir dan mulai menggenangi areal pemukiman, terutama yang sudah menjadi langganan banjir. (banjir koq dijadikan langganan.. yaa?). Hal ini terjadi lagi dan lagi karena saluran drainase tidak sanggup menampung jumlah air yang tercurahkan dari langit, karena tertutup oleh lumpur dan tanah.

Banjir besar Jakarta pada tahun 2002, 2007, dan kalau mengikuti siklus lima tahunan banjir besar akan terjadi lagi tahun 2012. Namun pada kenyataannya pada tahun 2008 juga terjadi dan bukannya tidak mungkin terjadi lagi di tahun 2010 ini. Kesemua banjir tersebut diawali dengan hujan lebat malam dan dini hari kadang berlanjut hingga pagi hari. Semoga saja proyek Banjir Kanal Timur (BKT) yang sekarang konon sudah tembus ke laut, bisa berperan banyak untuk menampung tumpahan air dari langit.

Seorang peramal kondang di Indonesia, Mama Lauren sudah meramalkan bahwa kemungkinan akan terjadi banjir besar lagi di Jakarta sebelum tanggal 14 Februari 2010 (hari raya Imlek 2561 tahun Macan/Harimau). Apakah anda mempercayainya ?

Banyak hal lain yang menyebabkan terjadinya banjir besar Jakarta, yang disebabkan ulah manusia, seperti: perubahan peruntukan area hijau, bantaran sungai, pengurugan rawa dan situ dan bahkan pantai yang penuh pohon bakau pun ikut berubah, kesemuanya menjadi area pemukiman dan hutan beton yang dengan congkaknya berdiri menantang kehendak alam. Pada area hulu sekitar Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur), banyak pohon dan hutan alam dikorbankan mengakibatkan curah hujan yang datang melimpah ruah sebagian besar akan di gelontorkan ke Jakarta lewat pintu air Katulampa.

Kalau sudah begini, masihkah kita pantas menyalahkan alam dan bahkan menyalahkan Tuhan atas segala bencana yang datang silih berganti ???

Segera lakukan tindakan untuk Sayangi Bumi dengan tidak membuang sampah secara sembarangan. Mulai pilah mana yang organik dan mana yang an-organik. Sampah organik bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman, sedangkan yang an-organik seperti plastik dan sebagainya bisa di daur ulang untuk dipergunakan lagi.

Catatan:

Sampai dengan tanggal 19 Februari ini, hujan lebat sudah menyebabkan banjir di sekitar Jabodetabek dan Bandung Selatan. Tanggal 18 Februari dini hari, banjir kiriman akibat hujan lebat di Bogor dan Depok, mengakibatkan pintu air Manggarai meluap, banjir sempat mencapai 3 meter di Kampung Melayu dan Kampung Pulo. Hujan lebat disertai petir masih berpotensi berlangsung sampai akhir bulan ini, oleh karenanya tetap waspadalah !!!


Sumber berita dan foto: Kompas cetak, BMKG

Rabu, 20 Januari 2010

Hidup Sehat dengan Jalan Kaki dan Meditasi



‘Mens sana in corpore sano’, demikian istilah bahasa Latin yang pernah kita pelajari semasa sekolah dulu, yang kurang lebih berarti ‘Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat’.

Di awal tahun 2010 ini ada baiknya kita canangkan suatu resolusi atau
menata kembali segala yang dilakukan dalam kehidupan secara menyeluruh. Kita buang dan jangan ulangi kebiasaan jelek dan kesalahan yang lalu, kita hadapi tahun baru dengan semangat baru untuk meraih keberhasilan di segala bidang yang lebih dibanding tahun lalu, termasuk di bidang kesehatan dengan suatu resolusi sehat, agar dapat dicapai keadaan tubuh dan jiwa yang lebih sehat.

Bercermin dari pengalaman ibunda tercinta yang sekarang berusia menjelang 81 tahun, beliau setiap pagi selalu melakukan jalan pagi dan senam jantung sehat di alun-alun dekat rumah sampai dengan usia 70an, sekarang beliau tetap olah raga senam setiap pagi secara teratur di rumah. Selain itu, perbanyak makan makanan berserat seperti sayur-sayuran, kacang-kacangan dan buah-buahan serta banyak minum air putih, mungkin mempunyai korelasi langsung terhadap kesehatannya yang masih cukup terjaga sampai detik ini.

Jalan pagi merupakan olah raga murah-meriah banyak manfaat. Murah-meriah karena hampir tidak dibutuhkan biaya operasional untuk melakukannya. Banyak manfaat, pasti. Jika dilakukan minimal 3 kali seminggu sampai berkeringat, apalagi bisa dibiasakan setiap hari, akan menghasilkan tubuh yang lebih sehat dan bugar. Sebaiknya olah raga murah meriah ini dilakukan antara pukul 6.00 sampai dengan 8.00 pagi, karena matahari baru terbit dan belum terasa panas teriknya.

Banyak kesaksian tentang manfaat jalan kaki pada pagi hari, diantaranya ada yang sebelumnya mengeluh terkena sakit jantung, kencing manis (DM) dan kolesterol tinggi, menjadi lebih sehat dan keluhan sakitnya lama-lama menghilang dengan sendirinya.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Duke University Medical Center baru-baru ini ditemukan bahwa berjalan kaki 30 menit dalam sehari dapat mengurangi metabolic syndrome, yaitu salah satu penyebab tingginya risiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Selain itu, manfaat jalan kaki lainnya adalah:

mengurangi depresi dan stress, mengurangi berat badan dan resiko obesitas, mencegah dan mengurangi keropos tulang, bahkan studi Universitas Temple menyebutkan berjalan kaki 90 menit selama lima kali dalam seminggu bisa membuat anda merasa lebih bahagia, karena tubuh manusia memproduksi endorphin, yaitu semacam hormon yang membuat orang menjadi bahagia.

Jika jalan pagi tidak mungkin dilakukan karena harus berangkat kerja pada setiap pagi atau harus mengantar anak ke sekolah dan lainnya, hal ini dapat diganti dan disiasati dengan cara misalnya: parkir kendaraan yang cukup jauh dari letak kantor atau sekolah. Pada umumnya orang-orang berusaha parkir kendaraan, kalau bisa sedekat mungkin dengan obyek tujuan, tapi bagi yang belum sempat berolah raga jalan kaki, dapat tempat parkir yang agak jauh, seharusnya bersyukur. Anggap saja anugrah terselubung (walau agak terpaksa, hehehe…), karena kita bisa berjalan lebih jauh dibanding orang lain.

Jika lokasi tempat kerja berada pada gedung bertingkat tinggi, dapat menyiasati berolah-raga dengan cara mengganti naik lift atau elevator dengan naik tangga biasa sebanyak 2 atau 3 lantai, setiap berangkat atau pulang kerja (jangan coba-coba naik tangga biasa jika tinggi bangunannya lebih dari 10 lantai, nanti bisa pingsan, hehehe…).

Senam setiap pagi atau sore pun demikian, jika dilakukan secara menerus, minimal 3 kali seminggu sampai mengeluarkan keringat akan memberikan dampak yang sangat positif bagi kesehatan. Tolok ukur berkeringat adalah ukuran awam yang paling mudah terlihat, pengganti istilah medis bahwa sesungguhnya sudah terjadi pembakaran energi di dalam tubuh.

Hasil olah raga jalan kaki, senam atau pun olah raga lainnya seperti bersepeda, sepak bola, futsal, bulu tangkis bahkan olah raga bela diri seperti karate, silat, kungfu, taekwondo, akan lebih maksimal jika dibarengi dengan kebiasaan bermeditasi setiap hari, karena akan memberikan efek ketenangan pada jiwa, mengurangi ‘stress’ dan tentunya mendukung kesehatan juga. Meditasi paling baik dilaksanakan saat menjelang akan tidur atau saat bangun tidur di pagi hari.



Berikut ini saya coba tuliskan cara bermeditasi yang sederhana, yaitu Meditasi Anapanasati untuk menjaga kesehatan dan ketenangan pikiran melalui pemusatan pikiran pada peristiwa masuk dan keluarnya nafas. Kita syukuri anugrah oksigen di udara yang sangat berlimpah di Bumi yang harus terus kita jaga kebersihannya agar juga tetap bisa dinikmati anak dan cucu kita kelak. Lalu kita amati dengan seksama saat kita menghirup udara secara perlahan seraya berdoa semoga udara yang kita hirup adalah udara yang mengandung ‘energi positif’ dan udara yang kita hembuskan adalah udara yang mengandung ‘energi negatif’ yang ada di dalam tubuh kita. Lama udara yang masuk dan udara yang keluar usahakan kurang lebih sama dan lakukan secara perlahan misalnya masing-masing 7 detik dan dapat ditingkatkan sesuai kemampuan masing-masing. Lakukan secara terus menerus dan berulang sampai dicapai ketenangan pikiran yang harmoni. Untuk pemula cukup lakukan 10 menit yang nantinya bisa ditingkatkan sampai 30 menit. Coba lihatlah, betapa menaklukan pikiran tidaklah mudah, karena pikiran kita terus menerawang kemana-mana secara liar… tapi tetaplah berusaha untuk fokus ke usaha kita menenangkan pikiran ke masuk dan keluarnya nafas secara perlahan dan lembut. Meditasi ini sebaiknya dilakukan pada tempat yang tenang dengan menggunakan pakaian yang nyaman (tidak ketat).

Dalam dunia medis kedokteran kita kenal istilah ‘Tindakan preventif jauh lebih baik dilakukan daripada tindakan kuratif’.

Semoga cara menjaga kesehatan dengan berjalan kaki dan bermeditasi ini cukup efektif dan bermanfaat, karena kita lebih baik mencegah datangnya penyakit daripada berusaha mengobatinya habis-habisan pada saat terkena penyakit yang tentunya juga akan menghabiskan biaya yang lebih mahal dibandingkan biaya pencegahannya.

Jika terasa jenuh dan bosan berjalan kaki di lingkungan dekat tempat tinggal, kita dapat menyiasati dengan berjalan kaki di alam terbuka pegunungan atau pun pada tepi pantai. Hal ini dapat dilakukan bersama keluarga atau dengan saudara dan teman sekitar 1 atau 2 bulan sekali, agar efisien bahan bakar dan kita tidak banyak menyumbang pencemaran udara dengan CO2 yang sekarang sudah menumpuk pada atmosfer Bumi serta menyebabkan pemanasan global. Saatnya melakukan tindakan 'Sayangi Bumi' mulai dari sekarang.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk para pembaca yang berminat melakukannya. Jangan lupa tetap terapkan gaya hidup sehat dengan makanan bergizi seimbang rendah lemak, minum air putih minimal 8 gelas sehari (hindari yang mengandung alkohol, soda dan gula yang tinggi) serta lakukan istirahat dengan tidur yang cukup.

Tetap semangat untuk menjaga kesehatan, menjaga dan menyayangi Bumi tempat berpijak agar tetap sehat, indah dan nyaman dihuni.

Salam peduli lingkungan.


Sumber bacaan dan gambar dari Wathan89.wordpress.com + browsing Google